'Pergeseran' Kemasan Belanda 2030: Kaleng Logam 12,2%, Karton -0,6%, Bagaimana Seharusnya Merek Memposisikan Dirinya?
Pada tahun 2025, total pasar kemasan Belanda akan mencapai 29,9 miliar unit dan diperkirakan akan tumbuh secara moderat menjadi 30,8 miliar unit pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 0,6%. Di bawah tekanan peraturan ekonomi sirkular UE yang ketat, plastik kaku akan tetap menjadi bahan kemasan terbesar, namun menurunnya penggunaan karton, meningkatnya penggunaan kaca dalam minuman non-alkohol, dan inovasi bahan daur ulang yang eksplosif mengubah lanskap pengemasan di Negara-Negara Rendah.
1. Tinjauan Pasar: Lanskap Pengemasan Belanda yang Stabil namun Berubah
Pada tahun 2025, lima bahan kemasan utama di Belanda masing-masing memiliki pangsa masing-masing: plastik kaku dengan timbal sebesar 34,1%, diikuti oleh kemasan fleksibel sebesar 25,5%, logam kaku sebesar 17,5%, kaca sebesar 13,5%, dan karton sebesar 9%. Dalam hal tingkat pertumbuhan, logam kaku akan menjadi-bahan dengan pertumbuhan tercepat dari tahun 2025 hingga 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 1%, sementara karton menghadapi tekanan pertumbuhan negatif sebesar -0,6%.
Pangsa Pasar dan Tingkat Pertumbuhan Bahan Kemasan: Plastik kaku memiliki pangsa terbesar, namun logam kaku tumbuh paling cepat.

II. Lanskap Industri Terminal: Makanan dan-Minuman Non-Alkohol Adalah Andalan Mutlak
Industri makanan adalah 'pelanggan' terbesar kemasan Belanda, mengonsumsi 17,6 miliar unit kemasan pada tahun 2025 (terhitung 58,8%), dengan minuman non-alkohol berada di urutan kedua dengan 5,1 miliar unit (16,9%). Menariknya, berbagai industri memiliki preferensi bahan yang sangat berbeda: makanan lebih menyukai plastik kaku (44,3%), minuman non-alkohol lebih menyukai kaleng logam kaku (38,8%), sedangkan minuman beralkohol didominasi oleh kaca (69,6%).
📊 Pangsa penggunaan bahan kemasan berdasarkan industri: makanan menggunakan plastik, minuman menggunakan kaleng logam, bir dan anggur menggunakan gelas.

AKU AKU AKU. Perincian Lima Bahan Utama Satu per Satu
Plastik Kaku: Konsumsi diperkirakan akan mencapai 10,2 miliar unit pada tahun 2025, dengan produk susu dan kedelai menyumbang 60,2% dari jumlah tersebut. Namun, Belanda akan mewajibkan mulai tahun 2025 bahwa-botol minuman plastik sekali pakai mengandung setidaknya 25% plastik daur ulang, dan meningkat menjadi 30% pada tahun 2030, yang merupakan-pedang bermata dua bagi pasar.
Logam Kaku: Di balik volume 5,3 miliar unit terdapat preferensi konsumen terhadap kaleng yang "portabel, ringan, dan dapat didaur ulang". Khususnya, penggunaan kaleng logam dalam minuman beralkohol beraroma diperkirakan akan melonjak dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 12,2%-selaras dengan tren RTD (koktail siap-minum-minum) global.
Karton: Satu-satunya bahan dengan pertumbuhan negatif, terutama disebabkan oleh penurunan konsumsi produk tembakau. Dalam industri makanan, permintaan karton untuk pasta dan mie instan tumbuh sebesar 5,7% per tahun, mencerminkan tren yang jelas menuju-alternatif ramah lingkungan.
Kemasan Fleksibel: Dari total 7,6 miliar unit, produk sereal panggang menyumbang 44%. Kategori kosmetik dan perawatan pribadi akan menjadi segmen-yang tumbuh paling cepat untuk kemasan fleksibel dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 1,1%.
Gelas: Bir dan sari buah apel menyumbang 79,8% dari penggunaan gelas di segmen minuman beralkohol, sementara minuman ringan diharapkan menjadi-subsegmen-pertumbuhan tercepat untuk gelas dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 2,5%-seiring meningkatnya tren premiumisasi dan kesehatan, soda-botol gelas dan kombucha kembali ke pasaran umum.
📊 Evolusi Konsumsi Lima Bahan Kemasan Utama dari tahun 2020 hingga 2030: Plastik kaku tetap menempati urutan pertama, sementara karton perlahan menurun.

4. Apa yang diinginkan konsumen? Empat kata kunci
Survei Q1 2026 GlobalData menunjukkan bahwa konsumen Belanda memiliki empat tuntutan utama terhadap kemasan: kenyamanan (80% menganggapnya penting), keberlanjutan (71%), kemampuan daur ulang (70%), dan konektivitas digital (47%). Perawatan bayi dan makanan telah menjadi dua kategori produk yang paling sering dibeli konsumen sebagai "produk ramah lingkungan", yaitu masing-masing sebesar 41% dan 39%.
📊 Pemeringkatan kategori pembelian produk-ramah lingkungan di kalangan konsumen Belanda: produk dan makanan bayi adalah medan pertempuran utama untuk konsumsi-ramah lingkungan.

5. Transformasi yang Didorong-Peraturan: EPR dan Sistem Pengembalian Deposito
Keputusan Limbah Kemasan Belanda menetapkan target daur ulang pada tahun 2030 sebesar 55% untuk plastik, 86% untuk kaca, dan 85% untuk karton. Sistem Pengembalian Deposit (DRS) mencakup semua botol plastik dan kaleng logam di bawah 3 liter, dengan deposit maksimum €0,25 per botol dan target tingkat daur ulang sebesar 90%. Persyaratan ketat ini memaksa merek untuk mendesain ulang kemasannya.
6. Kasus Inovasi: Dua Jalan bagi Merek Lokal
Ridel mengganti sirup Van de Boom dari kaleng logam ke karton polimer berbasis hutan SIG Terra, dengan 95% bahannya bersumber dari sumber daya hutan terbarukan. Merek domestik Belanda lainnya, Bottle Up, meluncurkan botol bioplastik yang 100% berbahan dasar tebu-yang sepenuhnya menghilangkan bahan-berbasis fosil. Kedua kasus ini mewakili dua strategi khas 'pengurangan plastik' dan 'substitusi material'.

Pasar kemasan di Belanda tampak stabil di permukaan, namun pada intinya, pasar ini sedang mempercepat restrukturisasi berdasarkan tiga kekuatan yaitu peraturan UE, kesadaran konsumen terhadap lingkungan, dan inovasi merek. Untuk merek-barang konsumen yang bergerak cepat (FMCG), siapa pun yang pertama kali dapat menemukan keseimbangan dalam kerangka ekonomi sirkular akan mendapatkan keuntungan awal di pasar Belanda pada tahun 2030.
💡 Tiga Wawasan Utama
Wawasan 1: Dividen Kebangkitan Kaleng Logam
Kaleng logam untuk minuman beralkohol beraroma tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 12,2%, tertinggi di antara semua segmen. Kategori RTD (-Siap-Minum) adalah jalur emas bagi merek untuk terhubung dengan kelompok konsumen muda.
Wawasan 2: 'Terobosan Makanan' Cardboard
Di pasar karton yang sedang menurun secara keseluruhan, karton untuk pasta dan mie instan tumbuh 5,7% setiap tahunnya, yang menunjukkan bahwa substitusi 'plastik-ke-kertas' memiliki potensi permintaan nyata dalam kategori barang kering. Merek-makanan cepat saji harus membuat rencana terlebih dahulu.
Wawasan 3: Serangan Balik Glass pada Minuman Ringan
Gelas untuk-minuman non-alkohol tumbuh 2,5% setiap tahunnya, jauh di atas rata-rata kategori tersebut. Dalam kategori seperti air kemasan premium, minuman fungsional, dan kombucha, gelas mendefinisikan ulang bahasa visual 'label bersih'.

